Polarisasi Pemimpin PW IPM Sul-sel dalam melancarkan Politik Praktisnya

Porostengah.com – Kita lahir sebagai anak yang biasa-biasa saja, kadang tidak bisa ditebak. Terkadang membuat orang kaget sampai berteriak tengah malam dan menjahili orang tanpa sebab. Namun, terkadang bisa menjadi sosok yang bijak seperti bapak Sapardi sang maestro hujan di bulan juni, ”seperti adanya begini maksudnya begitu, kita abadi yang pana itu waktu, barangkali hidup adalah doa yang panjang tapi oh sayang doanya mesti seragam, karena tak dapat ku-ungkapkan kata yang paling cinta, ku-pasrahkan saja di dalam dia”, mungkin seperti itulah kira-kira jika kita dihadapkan dengan dinamika menjelang Musyawarah Wilayah (Musywil) Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Sulawesi selatan (Sul-sel).

Beberapa hari lagi Musywil PW IPM Sul-sel akan dilaksanakan di kabupaten Sinjai, waktu yang singkat, persiapan yang kurang dan terkesan sangat politis. Karenanya, beberapa dari perangkat musywil terbilang tidak netral dalam penentuan-penentuan atau pengambilan keputusan, banyak yang mungkin sangat disoroti. Yang pertama adalah perangkat musywil yang sampai sekarang belum diketahui kejelasannya dan tidak adanya agenda transpransi ke daerah-daerah, ini membuktikan bahwa PW IPM kurang siap dalam melaksanakan Musywil.

Agak-agaknya Pimpinan Wilayah ditekan oleh beberapa oligar, sebab. Wacana awal berdasarkan surat instruksi PP IPM (No.001-INS/PP IPM-222/2023) tentang “pelaksanaan Musyawarah Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah untuk melaksanakan Musyawarah wilayah selambat-lambatnya pada 31 Desember 2023” , maka. Kami memandang polarisasi yang dilakukan adalah bagian dari politik praktis dengan dalih sebagai petugas PPK dan PPS.

Kekecewaan kami tentu didasari pada marwah IPM yang telah hilang akibat jalan kekuasaan atas nafsu praktis. Musywil telah dekat dan gagasan masih jauh dari permukaan, Lalu yang kedua adalah informasi terkait tim materi yang sangat dipaksakan, nyatanya tim yang tinjuk sama sekali tidak siap dalam merancang gerakan baru bagi IPM Sul-sel kedepannya, “sesuatu yang dipaksakan terkadang ada rencana buruk di belakangnya.” Satu periode hampir usai, tidak sedikitpun ada nilai yang ditanamkan bagi akar rumput, PW IPM sudah tidak memberikan contoh yang baik dan ironisnya tetap saja menunjukkan sifat congkaknya dan berjalan dengan keangkuhan layaknya firaun dalam kisah nabi musa.

Rusaknya sistematika pimpinan akibat lambatnya melaksanakan Musywil, yang Seyogyanya di bulan Januari masa transisi harus dilakukan, karena ini menyangkut masa kepemimpinan yang ada di akar rumput, dalam melakukan peremajaan kader. Apalah arti politik sampai-sampai harus menjual moral kader demi kekuasaan.

Terakhir yang ingin kami sampaikan kepada seluruh kader Sulawesi selatan bahwa tulisan ini kami buat dengan seksama dalam tempo sesingkat-singkatnya dan sedikit edukasi bagi kita semua bahwa inilah fakta pemimpin kita yang sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *