POROSTENGAH.COM – Di balik kabin pesawat ATR 42-500 yang kemudian jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, tersimpan kisah tentang pengabdian, mimpi, dan cinta yang belum sempat dirayakan. Nama itu adalah Florencia Lolita Wibisono, pramugari yang akrab disapa Ollen.
Perempuan berdarah Manado itu dikenal sebagai sosok tangguh dan berdedikasi. Bagi Ollen, mengenakan seragam pramugari bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan untuk melayani. Senyum hangatnya selalu menyertai setiap penerbangan, seolah menjadi penenang bagi penumpang yang ia layani. Senyum itu pula yang kini dikenang, setelah pesawat yang ditumpanginya mengalami kecelakaan tragis di kawasan pegunungan Sulawesi Selatan.
Di detik-detik terakhir pengabdiannya, Ollen tetap berada di barisan terdepan. Ia menjalankan tugas sebagai kru kabin dengan penuh tanggung jawab, sebagaimana yang selama ini ia yakini. Tak ada yang menyangka, penerbangan itu menjadi perjalanan yang memisahkan Ollen dari mimpi-mimpi yang tengah ia bangun.
Di balik profesionalismenya, Ollen menyimpan rencana hidup yang hampir terwujud. Ia dikabarkan tengah mempersiapkan pernikahan bersama pria yang dicintainya. Hari bahagia telah direncanakan, masa depan telah disusun dengan harapan sederhana: membangun keluarga dan menjalani hidup dengan penuh cinta. Namun takdir berkata lain. Mimpi itu kini tertunda, terhenti oleh peristiwa yang mengguncang banyak hati.
Duka mendalam menyelimuti keluarga, rekan sejawat, dan sesama insan penerbangan. Namun di tengah kesedihan, doa dan harapan terus mengalir. Masih ada keyakinan bahwa pengabdian Ollen tidak akan dilupakan, bahwa cinta dan mimpi yang ia titipkan akan tetap hidup dalam ingatan mereka yang mengenalnya.
Ollen mungkin tak lagi menyapa dengan senyum di kabin pesawat. Namun kisah tentang ketulusan, pengabdian, dan mimpi yang ia perjuangkan, akan terus terbang melintasi ingatan, doa, dan harapan banyak orang.



















