Oleh : Nur Sakinah Kamal
Sebagai perempuan berusia 25 tahun yang masih aktif membela hak-hak keperempuanan, narasi saya bukan sekadar keluhan, melainkan sebuah manifestasi intelektual. Di usia ini, kita tidak lagi hanya melihat ketidakadilan sebagai “nasib”, tapi sebagai konstruksi sistemik yang harus dibongkar.
Kita seringkali berdiri di persimpangan jalan yang ganjil. Di satu sisi, kita didorong untuk berpendidikan tinggi dan mandiri, namun di sisi lain, bayang-bayang patriarki masih sering berbisik bahwa keberhasilan kita harus tetap “setinggi lutut laki-laki”.
Sebagai seseorang yang aktif di organisasi keperempuanan, saya melihat bahwa patriarki bukan sekadar dominasi laki-laki atas perempuan, melainkan sebuah sistem yang memiskinkan kemanusiaan itu sendiri.
Patriarki beroperasi dengan cara yang sangat halus, ia mendikte apa yang “pantas” dan “tidak pantas” bagi perempuan.
Namun, seperti yang ditegaskan oleh bell hooks dalam bukunya Feminism is for Everybody:
“Patriarchy has no gender. A male child who has been nurtured by his mother to believe that he is superior to girls is a victim of patriarchy. A woman who encourages her daughter to seek a husband for financial support instead of developing her own skills is an agent of patriarchy.”
Kutipan ini menyadarkan saya bahwa melawan patriarki bukan berarti membenci laki-laki. Kita melawan sistem yang membatasi potensi manusia berdasarkan gender.
Patriarki adalah beban yang tidak hanya menindas perempuan, tetapi juga membelenggu laki-laki dalam ekspektasi maskulinitas yang toksik.
Banyak yang salah kaprah menganggap emansipasi adalah upaya perempuan untuk menjadi “seperti laki-laki”. Padahal, emansipasi adalah tentang otonomi. Ini tentang hak untuk menentukan tubuh kita sendiri, karier kita, dan peran kita di masyarakat tanpa rasa takut atau tekanan moralistik.
Simone de Beauvoir dalam mahakaryanya The Second Sex (Le Deuxième Sexe) menuliskan kalimat yang melegenda:
“One is not born, but rather becomes, a woman.”
Kalimat ini mengingatkan kita bahwa banyak sifat “feminin” yang selama ini dianggap
lemah sebenarnya hanyalah konstruksi sosial untuk menjaga kita tetap di posisi kedua.
Emansipasi adalah proses “menjadi” yang merdeka di mana kita tidak lagi didefinisikan
berdasarkan hubungannya dengan laki-laki (istri si A, anak si B), melainkan sebagai subjek yang utuh.
Di negara ini, kita berhadapan langsung dengan realitas pahit: kekerasan
seksual, diskriminasi upah, hingga beban domestik ganda. Kita tidak bisa diam ketika hak-hak kita dikompromikan demi “stabilitas” tradisi. Nawal El Saadawi, aktivis dan penulis asal Mesir dalam bukunya The Hidden Face of Eve, dengan tajam menyatakan:
“Women’s liberation is the liberation of the whole of society. We cannot free a society if half of its members are oppressed.”
Bagi saya, menegakkan hak perempuan adalah bentuk cinta paling murni terhadap
kemanusiaan. Ketika perempuan berdaya, seluruh masyarakat akan terangkat. Emansipasi
bukan tentang meminta izin untuk masuk ke dalam ruang publik, melainkan tentang
menegaskan bahwa ruang itu adalah milik kita juga sejak awal.
Kita adalah generasi yang menolak untuk sekadar menjadi pelengkap dalam sejarah.
Sebagai perempuan, dengan energi solidaritas yang kita miliki, kita adalah bukti hidup bahwa suara kita tidak bisa lagi diredam. Mari terus merawat api perjuangan ini, bukan karena kita ingin berkuasa, melainkan karena kita ingin dunia yang lebih adil bagi setiap anak perempuan yang akan lahir setelah kita.



















