PMB UM Bulukumba BRI KCP RATULANGI
BRI KCP RATULANGI

‎Gizi Gratis Beraroma Busuk: Tempe Berjamur, Dua Sekolah, dan Dapur di Samping Gudang Semen

SELAYAR | POROSTENGAH.COM – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kepulauan Selayar kian disorot. Janji gizi sehat bagi anak sekolah dasar justru berujung pada aroma busuk secara harfiah dan simbolis.

‎Insiden pertama mencuat di UPT SDI Tanabau Nomor 80 Kepulauan Selayar, Kecamatan Bontoharu, pada 16 Oktober 2025. Tempe dalam menu makanan ditemukan berjamur dan berbau menyengat. Beberapa siswa dilaporkan muntah usai menyantapnya.

Ucapan Natal 2025 PT. BMS Ucapan Natal Bank BRI Kas Summarecon BRI KCP Ratulangi PT. MASMINDO DWI AREA BROSUR PMB UM BULUKUMBA 2025

‎Dalam berita acara penerimaan paket, pihak sekolah mencatat secara terang: “Tempe sudah membusuk dan berjamur.” Catatan itu disertai tanda tangan tenaga pendidik penerima paket bukan sekadar kabar lewat telinga.

‎Namun ternyata kasus itu bukan satu-satunya. Di hari dan tanggal yang sama, temuan serupa juga muncul di SDN Padang 03 Kepulauan Selayar.

‎“Iyyye, bersamaan itu hari, yang di SD Tanabau,” ujar seorang tenaga pendidik kepada pewarta, Jumat, 7 November 2025.

‎Dua sekolah, dua temuan identik, satu tanggal kejadian. Pola ini memperkuat dugaan ada persoalan serius dalam manajemen distribusi dan kontrol kualitas bahan pangan dalam program MBG.

‎Tak berhenti di situ. Investigasi lapangan menemukan kondisi dapur tempat pengolahan makanan program MBG juga jauh dari ideal. Bangunan dapur diketahui bersebelahan langsung dengan gudang semen.

‎Kedekatan lokasi dapur dengan bahan bangunan seperti semen menimbulkan pertanyaan soal standar higienitas yang seharusnya ketat dalam program penyediaan makanan untuk anak-anak sekolah dasar.

‎Pihak pengelola Satuan Pelaksana Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontobangung, Andi Asling, buru-buru membantah tudingan bahwa pihaknya lalai dalam menjaga kualitas makanan.

‎“Tidak benar dan tidak etis jika kami membagikan makanan yang dapat merugikan penerima manfaat,” kata Asling, ASN di lingkup Pemkab Selayar, Rabu, 5 November 2025.

‎Menurutnya, foto yang beredar memperlihatkan sisa makanan yang sudah dibuang, bukan paket yang didistribusikan.

‎ “Itu sampah, bukan makanan yang kami bagikan,” ujarnya.

‎Namun bantahan itu justru memunculkan lebih banyak pertanyaan. Jika benar hanya sampah, mengapa dua sekolah berbeda pada hari yang sama mencatat tempe busuk dalam berita acara resmi? Dan bagaimana bisa dapur pengolahan makanan anak sekolah berdiri berdampingan dengan gudang semen tanpa pengawasan?

‎Kisruh ini menjelma menjadi simbol kegagalan pengawasan dalam program publik. Di atas kertas, MBG adalah proyek pemenuhan gizi. Namun di lapangan, aroma busuk tempe dan debu semen mencampuri cita rasa program yang seharusnya menyehatkan anak-anak bangsa.

‎Publik kini menanti langkah nyata pemerintah daerah: melakukan investigasi terbuka, bukan sekadar mengeluarkan klarifikasi yang berusaha menutupi bau busuk yang sudah terlanjur menyebar. (Tim)

PT. MASMINDO DWI AREA
PMB UM BULUKUMBA
error: Content is protected !!