MAKASSAR | POROSTENGAH – Kesabaran warga Bintang Lima, Kelurahan Tamangapa, Kecamatan Manggala, akhirnya habis. Sabtu (28/3/2026), mereka turun ke jalan dan menutup total akses menuju TPA Antang.
Aksi ini bukan tanpa alasan. Bau busuk dari tumpukan sampah dan limbah yang kian parah disebut telah melewati batas toleransi.
Sejak pagi, warga memblokade jalan menggunakan batu dan balok. Dampaknya langsung terasa—deretan kendaraan, terutama truk pengangkut sampah, tak bisa bergerak. Kemacetan pun mengular hingga sekitar 2 kilometer.
Bagi warga, ini bukan sekadar soal macet. Ini soal hidup di tengah lingkungan yang mereka anggap sudah tidak layak.
Sampah berserakan, genangan limbah menghitam, dan bau menyengat menjadi “pemandangan” harian. Kondisi ini disebut semakin memburuk sejak jalur akses menuju TPA dialihkan ke kawasan mereka.
Antrean truk sampah yang nyaris tak pernah putus memperparah situasi. Selain menghambat aktivitas warga, keberadaan kendaraan tersebut dinilai mempercepat kerusakan lingkungan.
Dampaknya kini mulai dirasakan secara nyata. Warga mengaku kerap mengalami gangguan kesehatan mulai dari batuk, sesak napas, pusing, hingga mual akibat paparan bau sampah.
Tak hanya itu, kekhawatiran akan munculnya penyakit serius seperti demam berdarah juga semakin tinggi. Warga bahkan menyebut telah ada korban jiwa yang diduga berkaitan dengan kondisi lingkungan tersebut.
Dalam aksinya, warga menyampaikan satu pesan tegas: mereka tidak lagi membutuhkan janji.
“Cukup sudah. Kami butuh tindakan nyata, bukan sekadar wacana,” tegas salah satu warga di lokasi.
Aksi penutupan jalan ini disebut akan terus berlanjut hingga pemerintah benar-benar turun tangan dan memberikan solusi konkret.
Di sisi lain, persoalan ini kembali membuka luka lama soal pengelolaan TPA Antang yang hingga kini masih menjadi sumber keluhan warga sekitar.
Jika tak segera ditangani, bukan hanya kemacetan yang akan menjadi masalah, tetapi juga ancaman serius terhadap kesehatan dan kualitas hidup masyarakat.



















