SELAYAR | POROS TENGAH – Musim mudik Lebaran 1447 Hijriah sudah di depan mata. Jalur laut Bira – Pamatata kembali menjadi urat nadi mobilitas warga menuju Kepulauan Selayar.
PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Selayar mengklaim siap menghadapi lonjakan penumpang dalam Operasi Angkutan Lebaran Tahun 2026.
Di lintasan ini, dua kapal utama disiapkan, yakni KMP Balibo dan KMP Kormomolin. Dalam kondisi normal, kapal beroperasi 2 trip pulang-pergi per hari. Jika mulai padat, trip ditambah menjadi 3 kali pulang-pergi, bahkan bisa ditambah lagi bila arus kendaraan dan penumpang melonjak.
Jarak penyeberangan dari Pelabuhan Bira menuju Pelabuhan Pamatata sekitar 18 mil laut dengan waktu tempuh kurang lebih dua jam perjalanan.
Dari sisi kapasitas, KMP Balibo mampu menampung sekitar 250 penumpang dan 18 kendaraan, sementara KMP Kormomolin memiliki kapasitas 296 penumpang dengan 18 kendaraan.
Fasilitas di dalam kapal juga disebut cukup lengkap, mulai dari kursi penumpang, kantin, pendingin udara, televisi, hingga fasilitas keselamatan seperti APAR dan P3K.
Tak hanya itu, ASDP juga menyiapkan kapal cadangan jika terjadi lonjakan ekstrem. Di antaranya KMP Bontoharu, KMP Takabonerate, dan KMP Sangke Palangga yang bisa digerakkan secara kondisional.
Di sisi darat, puluhan petugas juga disiagakan. Di Pelabuhan Bira tercatat 22 personel, sementara di Pelabuhan Pamatata ada 20 petugas yang bertugas mengatur loket tiket, pemeriksaan kendaraan, keamanan hingga kebersihan pelabuhan.
Soal waktu paling krusial, ASDP memprediksi puncak arus mudik akan terjadi pada H-6 hingga H-2 Lebaran, atau sekitar 14 sampai 18 Maret 2026.
Sedangkan arus balik diperkirakan mulai padat pada 24 hingga 29 Maret 2026.
Berdasarkan proyeksi ASDP, selama periode operasi Lebaran H-10 hingga H+10, jumlah penumpang diperkirakan menembus lebih dari 13 ribu orang. Sementara kendaraan yang menyeberang diprediksi mencapai 5.074 unit roda dua dan 2.704 unit kendaraan roda empat.
Meski begitu, ada beberapa catatan yang masih menjadi perhatian. Salah satunya keberadaan kapal nelayan dan kapal pinisi di area kolam pelabuhan Bira yang berpotensi mengganggu manuver kapal ferry.
Belum lagi persoalan klasik kendaraan yang datang ke pelabuhan tanpa tiket, yang kerap memicu antrean panjang di pintu masuk.
Masalah lain yang juga diantisipasi adalah jaringan internet yang lambat saat cuaca buruk, yang bisa menghambat proses pelayanan tiket dan akses sistem.
Meski demikian, ASDP memastikan koordinasi dengan berbagai pihak seperti kepolisian, dinas perhubungan, hingga penyedia jaringan terus dilakukan agar arus penyeberangan selama Lebaran bisa berjalan aman, lancar, dan terkendali.
Singkatnya, ASDP Selayar bilang mereka siap. Tinggal nanti di lapangan, apakah semuanya benar-benar berjalan mulus saat gelombang mudik mulai datang.












