Porostengah.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan signifikan pada penutupan perdagangan Selasa (25/3). Rupiah ditutup di level Rp16.611 per dolar AS, angka terendah sejak krisis ekonomi 1998 yang sempat menyentuh Rp16.800 per dolar AS.
Pelemahan rupiah ini dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal maupun domestik. Dari sisi global, penguatan dolar AS didorong oleh kebijakan moneter ketat yang masih dipertahankan oleh Federal Reserve guna meredam inflasi. Hal ini membuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, semakin besar.
Di sisi domestik, ketidakpastian ekonomi serta defisit neraca perdagangan menjadi faktor yang turut membebani rupiah. Selain itu, arus modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan Indonesia juga semakin memperburuk situasi.
Ekonom menilai pelemahan ini dapat berdampak pada meningkatnya beban impor dan tekanan inflasi di dalam negeri. Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan mengambil langkah strategis untuk menstabilkan nilai tukar rupiah guna menjaga kestabilan ekonomi nasional.
Ekonom dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Prasetyo, menyebut bahwa depresiasi rupiah ini merupakan dampak dari kombinasi faktor global dan domestik yang belum sepenuhnya terkendali. “Kenaikan suku bunga The Fed masih menjadi faktor dominan yang membuat investor asing menarik dananya dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal ini menekan nilai tukar rupiah ke level yang semakin melemah,” ujarnya.
Sementara itu, analis pasar keuangan, Mira Santoso, menyoroti peran kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas nilai tukar. “Pemerintah perlu memastikan kebijakan fiskal dan moneter selaras dalam mengantisipasi dampak pelemahan rupiah. Intervensi pasar oleh Bank Indonesia menjadi langkah yang harus diperkuat,” jelasnya.
Ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Fadhil Hasan, menambahkan bahwa pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh faktor struktural dalam perekonomian Indonesia. “Defisit transaksi berjalan yang masih terjadi membuat rupiah rentan terhadap gejolak eksternal. Indonesia perlu meningkatkan daya saing ekspor dan memperkuat industri dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor,” katanya.
Dengan tren pelemahan ini, pelaku pasar dan masyarakat diimbau untuk mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik guna mengantisipasi dampaknya terhadap sektor keuangan dan harga-harga kebutuhan pokok.