POROSTENGAH.COM | SELAYAR –Polemik pelaksanaan Program Gemerlap di sektor pertanian akhirnya mendapat respons langsung. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan turun ke Desa Bontonasaluk, Kecamatan Bontomatene, Kabupaten Kepulauan Selayar, menyusul viralnya tumpukan pupuk kompos di media sosial.
Di lokasi, petugas menemukan puluhan karung pupuk kompos tersimpan dalam waktu lama. Beberapa karung bahkan mengalami kerusakan. Untuk mencegah kerusakan bertambah, masyarakat mengangkut sebagian pupuk dari lokasi penyimpanan.
Setelah kunjungan tersebut, pemerintah menyalurkan 28 ton pupuk kompos kepada petani kelapa di Desa Bontonasaluk. Pupuk itu sebelumnya menjadi sorotan publik karena tidak segera dimanfaatkan.
Penyuluh Pertanian Desa Bontonasaluk, Rusli, SP, membenarkan distribusi tersebut. Saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, ia menjelaskan bahwa pupuk kompos itu diperuntukkan bagi lahan seluas 85 hektare.
“Jumlah pupuk yang disalurkan sebanyak 28 ton. Peruntukannya untuk sekitar 85 hektare lahan petani kelapa,” ujar Rusli, SP. Sabtu (07/02/2026)
Sebelumnya, unggahan Ahmad Yasin viral di media sosial. Ia menilai koordinasi antara petani, penyuluh, dan dinas pertanian tidak berjalan optimal. Kondisi itu, menurutnya, membuat pupuk dan bibit berisiko tidak termanfaatkan.
Saat dikonfirmasi, Ahmad Yasin membenarkan unggahan tersebut. Ia menegaskan bahwa informasi yang ia sampaikan berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
“Informasi yang saya posting itu A1. Kejadiannya memang ada,” tegasnya.
Meski distribusi pupuk kini berjalan, Ahmad Yasin tetap menyoroti perencanaan program sejak awal. Ia mempertanyakan kesiapan lahan sebelum pupuk didatangkan.
“Apakah lahannya sudah siap atau belum? Kalau belum siap, kenapa pupuk sudah didistribusikan?” katanya.
Hingga hari ini, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan belum menyampaikan keterangan tertulis terkait evaluasi menyeluruh Program Gemerlap. Publik pun menunggu langkah lanjutan agar persoalan serupa tidak kembali terulang. (*)

















