Selayar, Porostengah.com – Keputusan menonaktifkan jaringan internet berbasis satelit Starlink di Dusun Baera, Desa Bontotangnga, Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Kepulauan Selayar, kini menuai gelombang keluhan dari masyarakat.
Kebijakan tersebut diduga dipicu oleh framing sebagian warga dan seorang oknum perangkat desa yang menyebut kehadiran Starlink mengganggu jaringan BTS (Base Transceiver Station). Namun fakta di lapangan justru berbanding terbalik.
Sebelumnya, Kepala Bidang Aptika Dinas Kominfo Kabupaten Kepulauan Selayar, Andi Citra Opu, saat dikonfirmasi telah menegaskan bahwa jaringan BTS dan layanan internet Starlink tidak saling mengganggu.
Pernyataan ini sekaligus membantah asumsi yang berkembang di tengah masyarakat yang menjadi dasar penghentian layanan tersebut.
Sejak layanan Starlink dihentikan, warga di beberapa dusun justru mengaku kesulitan mengakses internet melalui jaringan seluler yang dinilai tidak stabil dan sering hilang.
Pengusaha Internet Starlink Darmawangsa saat dikonfirmasi mengatakan, iya benar kami non aktifkan jaringan Starlink sesuai kesepakatan dengan Pihak Pemerintah Desa karena isinya Mengganggu Jaringan Seluler. Singkatnya
Keluhan warga pun bermunculan, terutama terkait aktivitas harian yang bergantung pada koneksi internet.
“Jadi kapan baru dinyalakan Starlink? Tersiksa ki bela ceklok,” keluh salah seorang warga
“Saya pagi-pagi mesti cari jaringan lagi untuk ceklok, harus berburu sinyal tiap hari,” ujar warga lainnya.
“Ini kenapa Starlink WiFi sudah dimatikan, jaringan data belum juga baik. Tolong dinyalakan kembali, bosku,” tambah warga dengan nada kecewa.
Situasi ini memperlihatkan bahwa jaringan BTS di wilayah tersebut belum mampu menjadi solusi utama bagi kebutuhan komunikasi digital masyarakat. Alih-alih terganggu oleh Starlink, warga justru merasakan manfaat signifikan dari kehadiran layanan internet satelit tersebut sebelumnya.
Secara teknis, jaringan satelit seperti Starlink dan BTS seluler beroperasi pada sistem yang berbeda dan tidak saling mengganggu secara langsung. Starlink menggunakan koneksi satelit orbit rendah, sementara BTS mengandalkan infrastruktur darat berbasis menara pemancar.
Dengan kondisi jaringan seluler yang belum memadai, keputusan mematikan Starlink dinilai terburu-buru dan tidak berbasis kajian teknis yang komprehensif.
Kini, masyarakat berharap ada langkah cepat dari pemerintah desa maupun pihak terkait untuk mengevaluasi kebijakan tersebut dan mengaktifkan kembali layanan Starlink sebagai solusi alternatif.
Jika tidak, warga Baera akan terus berada dalam kondisi “darurat sinyal” dipaksa berburu jaringan setiap hari hanya untuk sekadar terhubung.



















