PMB UM Bulukumba BRI KCP RATULANGI
BRI KCP RATULANGI

‎Jalan Dibuka, Rumah dibangun, Masjid direhab : Wajah Baru Harapan di Batangmata Sapo

Selayar, Porostengah.com – Tidak ada yang lebih melelahkan bagi petani selain melihat hasil kerjanya tertahan di jalan yang tak pernah benar-benar berpihak.

‎Di Batangmata Sapo, Kecamatan Bontomatene, cerita itu pernah menjadi keseharian. Jalan menuju kebun berubah jadi lumpur saat hujan, dan jadi debu saat kemarau. Di sanalah tenaga terkuras, waktu terbuang, dan harapan kerap tertahan.

Hari Jadi Luwu 758 Ucapan Natal 2025 PT. BMS Ucapan Natal Bank BRI Kas Summarecon BRI KCP Ratulangi PT. MASMINDO DWI AREA BROSUR PMB UM BULUKUMBA 2025

‎Abdul Hamid adalah satu dari sekian banyak warga yang merasakan itu.

‎“Kalau hujan, kami kadang tidak bisa lewat. Mau tidak mau harus tunggu, atau dipaksakan dengan risiko besar,” ujarnya.

‎Namun hari ini, pelan-pelan keadaan itu mulai berubah.

‎Melalui program TMMD ke-128, jalan tani sepanjang sekitar 3,3 kilometer mulai dibuka. Lebarnya mencapai lima meter cukup untuk membuat akses yang dulu terasa mustahil kini perlahan menjadi mungkin.

‎Di lokasi, suasana tak lagi sama. Deru alat berat bersahut dengan suara warga dan prajurit TNI yang bekerja bersama. Tidak ada jarak di antara mereka yang ada hanya tujuan yang sama: membuka jalan, membuka peluang.

‎Bagi warga, ini bukan sekadar pembangunan.

‎Ini adalah jalan keluar.

‎Akses ke wilayah seperti Balangbutung yang dulu terasa jauh, kini mulai terhubung. Waktu tempuh berkurang, biaya angkut menurun, dan hasil panen punya peluang lebih besar untuk sampai ke pasar dalam kondisi baik.

Jalan tani sepanjang sekitar 3,3 kilometer mulai dibuka

‎Artinya sederhana: hidup mulai bergerak ke arah yang lebih baik.

‎Lurah Batangmata Sapo, Ahmad Nasrun, melihat perubahan ini sebagai titik penting.

‎“Mayoritas warga kami petani. Kalau aksesnya bagus, mereka bisa lebih produktif. Dampaknya pasti ke ekonomi,” katanya.

‎Namun TMMD di Selayar tidak berhenti pada soal jalan.

‎Di sudut lain desa, harapan juga sedang dibangun bukan di atas tanah, tapi di atas dinding rumah yang selama ini nyaris roboh.

‎Program pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) menjadi bagian penting dari TMMD ke-128. Bagi sebagian warga, ini adalah bantuan yang jauh lebih dari sekadar fisik.

Rehab Rumah Tidak Layak Huni Program andalan Kasad

‎Ini tentang martabat.

‎Andi Panawang (58) masih sulit menyembunyikan rasa harunya. Rumah yang selama ini ia tempati berdiri dengan segala keterbatasan dinding rapuh, kondisi jauh dari layak. Kini, perlahan rumah itu dibenahi.

‎Baginya, ini bukan sekadar renovasi.

‎Ini adalah jawaban.

‎Harapan yang selama ini hanya tersimpan dalam diam, kini mulai terlihat bentuknya. Rumah yang aman, nyaman, dan layak huni sesuatu yang dulu terasa jauh, kini mulai nyata di depan mata.

‎Tak jauh dari sana, satu lagi simbol kehidupan warga juga ikut disentuh.

‎Masjid yang selama ini menjadi pusat ibadah dan aktivitas sosial masyarakat kini direhabilitasi. Dinding yang mulai kusam, bagian bangunan yang mengalami kerusakan, perlahan diperbaiki. Bagi warga, ini bukan hanya soal bangunan, tapi soal tempat mereka bersujud, berkumpul, dan menguatkan kebersamaan.

‎Rehabilitasi masjid menjadi bagian penting yang melengkapi pembangunan fisik TMMD bahwa yang dibangun bukan hanya jalan dan rumah, tetapi juga ruang spiritual masyarakat.

Rehab Masjid oleh Tim dari sinergi TNI – Polri dan Masyarakat serta Unsur lainnya

‎Di lokasi pembangunan, pemandangan yang sama kembali terlihat: gotong royong. Warga dan Satgas TMMD bekerja bersama, mempercepat proses, menguatkan satu sama lain.

‎Kebersamaan itu bukan sekadar simbol.

‎Ia adalah kekuatan.

‎Komandan Kodim 1415/Selayar selaku Dansatgas TMMD menegaskan bahwa program ini adalah bentuk nyata kehadiran TNI di tengah masyarakat bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membantu meningkatkan kualitas hidup warga secara menyeluruh.

‎Selain pembangunan jalan, rumah, dan rehabilitasi masjid, TMMD juga menghadirkan berbagai kegiatan nonfisik seperti penyuluhan kesehatan, pertanian, hukum, hingga wawasan kebangsaan. Ada pula pengobatan gratis dan pasar murah yang langsung dirasakan manfaatnya.

‎Semua itu membuat perubahan terasa utuh.

‎Di Batangmata Sapo, jalan sedang dibuka.

‎Rumah sedang dibangun.

‎Masjid sedang diperbaiki.

‎Dan di antara semuanya, ada satu hal yang tumbuh perlahan namun pasti: harapan.

‎Bukan lagi sekadar kata-kata.

‎Tapi sesuatu yang kini benar-benar hadir di tengah kehidupan warga.

‎Untuk pertama kalinya, banyak yang mulai percaya hidup tidak harus selalu sekeras ini.

‎Dan perubahan, akhirnya, benar-benar datang.

PT. MASMINDO DWI AREA
PMB UM BULUKUMBA
error: Content is protected !!