Maros– Program INKLUSI BaKTI Kabupaten Maros menggelar pertemuan bersama warga di empat desa untuk membahas dampak perubahan iklim sekaligus menyusun draf dokumen profil risiko perubahan iklim di masing-masing desa.
Kegiatan tersebut berlangsung selama empat hari, dengan agenda pertemuan satu hari di setiap desa, yakni Desa Baruga, Binasabaji, Borikamase, dan Simbang. Desa Simbang menjadi lokasi terakhir dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Dalam pertemuan ini, warga bersama tim program membahas berbagai persoalan perubahan iklim yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Pembahasan tersebut menjadi dasar dalam mengidentifikasi risiko, dampak, serta kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap perubahan iklim di masing-masing desa.
Koordinator Program INKLUSI BaKTI Maros, Isma, mengatakan bahwa Desa Simbang dan Baruga merupakan wilayah yang paling rentan mengalami kekeringan. Sementara itu, Desa Borikamase dan Binasabaji dinilai lebih rentan terhadap bencana banjir.
Menurutnya, hasil identifikasi tersebut akan menjadi bagian penting dalam penyusunan dokumen profil risiko perubahan iklim, sehingga kondisi dan kebutuhan masyarakat di setiap desa dapat tergambarkan secara lebih jelas.
Dokumen tersebut nantinya akan memuat sejumlah data mengenai dampak perubahan iklim yang paling dirasakan masyarakat, termasuk tingkat kerentanan wilayah dan kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian lebih.
Desa dengan dampak perubahan iklim paling parah serta jumlah kelompok rentan terbanyak akan menjadi perhatian dalam penyusunan dokumen. Hasilnya diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam perencanaan pembangunan desa tahun 2027, termasuk melalui momentum pemilihan kepala desa, agar strategi mitigasi bencana dapat terintegrasi dalam arah kebijakan dan program pembangunan.
Setelah proses pengumpulan informasi dan penyusunan draf selesai, dokumen profil risiko perubahan iklim tersebut akan difinalisasi oleh tim yang telah dipilih.
Melalui kegiatan ini, INKLUSI BaKTI Maros mendorong agar persoalan perubahan iklim dan risiko bencana di tingkat desa mendapat perhatian dalam perencanaan pembangunan, dengan mempertimbangkan kondisi wilayah serta kebutuhan kelompok masyarakat yang paling rentan terdampak.





