Maros– Seorang lansia penyandang disabilitas Nurdin, yang tinggal di Dusun Panaikang, Desa Pajukukang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Tercatat dalam data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) berada dalam kelompok desil 6-10.
Menunjukkan keluarga Nurdin berada pada kelompok masyarakat mampu, jauh berbeda dengan kenyataan dilapangan.
Padahal fakta dilapangan Nurdin merupakan seorang disabilitas dan menderita penyakit, namun Nurdin tetap berusaha memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bersama istrinya dengan mencari ikan dan kepiting di sungai yang berada tak jauh dari rumahnya.
Dari pekerjaan tersebut, Nurdin memperoleh penghasilan sekitar Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per hari. Pendapatan itu menjadi tumpuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah keterbatasan.
Namun, Nurdin tidak selalu bisa bekerja setiap hari. Ketika penyakit yang dideritanya kambuh dan rasa sakit tak lagi mampu ditahan, ia terpaksa beristirahat di rumah.
Kondisi tersebut membuat penghasilannya tidak menentu. Di satu sisi, kebutuhan hidup terus berjalan. Di sisi lain, ia juga harus menyisihkan uang untuk membeli obat demi menjaga kondisi kesehatannya.
Selama ini, Nurdin mendapatkan bantuan langsung tunai (BLT) dari pemerintah desa sebesar Rp600 ribu setiap tiga bulan. Bantuan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus membeli obat-obatan.
Bagi Nurdin dan istrinya, bantuan itu menjadi salah satu penopang untuk melewati hari-hari ketika penghasilan dari mencari ikan dan kepiting tidak mencukupi.
Namun data dari DTSEN, kondisi ini menjadi perhatian karena Nurdin merupakan lansia penyandang disabilitas yang juga menderita penyakit dan masih harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sekretaris Desa Pajukukang, Rahmat, mengatakan Nurdin merupakan penerima tetap sekaligus menjadi prioritas penerima BLT Desa.
Pemerintah desa, kata Rahmat, akan berupaya agar desil keluarga Nurdin dapat berubah menjadi desil 1.
“Pak Nurdin telah menjadi prioritas penerima bantuan BLT Desa sejak masa covid tahun 2019 hingga saat ini, kami juga dari pemerintah desa akan berupaya agar desilnya bisa turun menjadi desil satu,” ujar Rahmat, Kamis (15/10/2026).
Upaya tersebut diharapkan dapat membantu agar kondisi sosial ekonomi keluarga Nurdin tercatat sesuai fakta dilapangan.
Di tengah keterbatasan fisik, penyakit, dan penghasilan yang tak menentu, Nurdin terus berjuang untuk bertahan hidup bersama istrinya. Sementara itu, bantuan desa menjadi penopang ketika tubuhnya tak lagi sanggup diajak bekerja.





