Selayar, Porostengah.com – Bukan sekadar proyek pembangunan. Di Kelurahan Batangmata Sapo, Kecamatan Bontomatene, denyut Program TMMD menjelma menjadi gerakan nyata yang mengubah arah hidup masyarakat.
Di tengah debu, keringat, dan deru alat berat, jalan tani sepanjang 3.350 meter dengan lebar 5 meter kini mulai terbuka. Jalur yang dulu hanya mimpi bagi petani, perlahan berubah menjadi akses vital yang akan menentukan nasib hasil panen mereka.
Selama bertahun-tahun, keterisolasian menjadi penghambat utama. Hasil pertanian sulit keluar, biaya angkut membengkak, dan produktivitas tercekik oleh medan. Kini, lewat TMMD, tembok keterbatasan itu mulai runtuh.
Pemandangan di lokasi tak sekadar aktivitas pembangunan. Prajurit TNI dan warga bahu-membahu tanpa sekat, tanpa jarak. Inilah wajah kemanunggalan yang sesungguhnya: kerja bersama untuk satu tujuan, keluar dari ketertinggalan.
Lurah Batangmata Sapo, Achmad Nasrun, SE., tak menyembunyikan rasa syukurnya.
“Pembangunan ini bukan hanya membuka jalan, tapi membuka peluang. Ini sangat membantu masyarakat, terutama petani, dalam menggerakkan ekonomi mereka,” tegasnya.
Di sisi lain, Komandan Kodim 1415/Kepulauan Selayar, Letkol Czi Yudo Harianto, S.T., menegaskan bahwa TMMD bukan sekadar rutinitas program.
“Ini bukan hanya tentang fisik. Ini tentang harapan. Jalan tani ini akan menjadi urat nadi distribusi hasil pertanian dan penggerak ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Namun TMMD tak berhenti di infrastruktur. Pasar murah hingga pengobatan gratis turut digelar menyasar langsung kebutuhan dasar warga yang selama ini kerap terpinggirkan.
Dengan progres yang terus dikebut, jalan tani sepanjang 3,3 kilometer ini bukan lagi sekadar proyek. Ia adalah simbol perubahan bahwa desa tak harus tertinggal, dan petani tak boleh terus tertahan.
TMMD di Selayar kembali mengirim pesan kuat: ketika TNI dan rakyat menyatu, pembangunan bukan lagi wacana melainkan kenyataan yang tak terbendung.



















