Selayar, Porostengah.com – Kelangkaan BBM di Kabupaten Kepulauan Selayar kini semakin sulit dipahami masyarakat.
Jika sebelumnya keterlambatan distribusi kerap dikaitkan dengan kondisi cuaca dan gangguan pelayaran, alasan tersebut kini dinilai tidak lagi cukup untuk menjelaskan kondisi di lapangan.
Pasalnya, kondisi cuaca saat ini relatif baik-baik saja.
Namun, BBM tetap sulit diperoleh masyarakat. Di sisi lain, BBM justru disebut masih beredar di tingkat pengecer dengan harga yang melambung tinggi.
Hasmiati, salah seorang warga, mengeluhkan harga BBM yang disebut mencapai Rp25 ribu hanya untuk setengah botol.
“Setengah botol Rp25 ribu,” keluh Hasmiati.
Keluhan lainnya menyebut harga BBM eceran kini berada di kisaran Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per botol, sementara volumenya disebut bahkan tidak mencapai satu liter.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius.
Jika cuaca sudah baik, lalu apa yang sebenarnya menyebabkan BBM tetap langka di Selayar?
Keterlambatan Tak Bisa Terus Jadi Alasan
Pemerintah dan pihak terkait kini dituntut tidak terus-menerus menjadikan keterlambatan distribusi sebagai alasan utama.
Sebab, ketika faktor cuaca tidak lagi menjadi hambatan yang nyata, publik berhak mengetahui persoalan sebenarnya yang terjadi di balik kelangkaan tersebut.
Berapa volume BBM yang masuk ke Selayar?
Berapa yang disalurkan?
Berapa stok yang tersedia?
Ke mana distribusi BBM bergerak setelah tiba di Selayar?
Dan mengapa masyarakat tetap kesulitan mendapatkan BBM dengan harga normal?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut seharusnya dijawab menggunakan data, bukan sekadar alasan.
BBM Sulit di Jalur Resmi, Mengapa Ada di Pengecer?
Persoalan semakin menarik ketika masyarakat mengaku masih menemukan BBM di tingkat pengecer, meskipun dengan harga yang jauh lebih tinggi.
Di sinilah rantai distribusi perlu dibuka secara terang.
Jika BBM benar-benar terbatas, bagaimana pengecer mendapatkan pasokan?
Dari mana sumber BBM tersebut?
Apakah berasal dari jalur resmi?
Berapa volume yang beredar di luar jalur penyaluran resmi?
Dan apakah ada potensi kebocoran distribusi yang menyebabkan masyarakat justru kesulitan memperoleh BBM?
Pertanyaan tersebut bukan berarti menuduh adanya pelanggaran.
Namun, di tengah kelangkaan dan lonjakan harga, seluruh rantai distribusi memang layak diperiksa.
Pertamina Belum Memberikan Jawaban
Untuk mendapatkan penjelasan dari pihak yang bertanggung jawab terhadap distribusi, Humas Pertamina Patra Niaga Makassar telah dikonfirmasi terkait kondisi kelangkaan BBM di Selayar, termasuk persoalan distribusi dan lonjakan harga di tingkat pengecer.
Namun hingga naskah ini disusun, pihak Humas Pertamina Patra Niaga Makassar tidak memberikan jawaban atau keterangan atas konfirmasi tersebut.
Sikap diam ini tentu menjadi bagian dari fakta yang patut dicatat dalam persoalan yang menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.
Publik tentu berharap Pertamina memberikan penjelasan terbuka mengenai kondisi pasokan dan distribusi BBM ke Selayar.
Saatnya Pemerintah Buka Data
Masyarakat tidak membutuhkan alasan yang berulang.
Masyarakat membutuhkan kepastian.
Jika pasokan tersedia, tunjukkan datanya.
Jika distribusi berjalan normal, jelaskan jalurnya.
Jika memang terjadi kekurangan pasokan, berapa jumlah kekurangannya dan kapan kondisi tersebut diperkirakan kembali normal?
Dan jika terdapat penyimpangan dalam rantai distribusi, aparat penegak hukum harus turun tangan melakukan pemeriksaan.
Sebab ketika cuaca baik tetapi BBM tetap langka, sementara harga eceran justru melonjak hingga puluhan ribu rupiah, maka pertanyaan publik menjadi semakin sulit dihindari.
Bukan lagi sekadar soal kapan kapal BBM datang.
Melainkan: “Kalau cuaca sudah baik, lalu apa yang membuat BBM tetap langka di Selayar?”
Dan pertanyaan yang kini menunggu jawaban:
“Ke mana sebenarnya BBM Selayar mengalir?”

















