Maros – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali terjadi di wilayah Kabupaten Maros. Kali ini, kebakaran melanda kawasan pegunungan jati di Dusun Bontopanno, Desa Toddopulia, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Kamis (27/8/2026).
Informasi mengenai kebakaran diterima pada pukul 13.00 Wita dari warga masyarakat. Menindaklanjuti laporan tersebut, Babinsa Desa Toddopulia segera menuju lokasi untuk memastikan kejadian sekaligus melakukan penanganan awal.
Sesampainya di lokasi, Babinsa mendapati api sedang membakar kawasan pegunungan yang ditumbuhi tanaman jati. Luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai ±10 hektare.
Babinsa bersama anggota Koramil 1422-05/Tompobulu, personel Polsek, serta masyarakat langsung berupaya melakukan pemadaman secara manual menggunakan peralatan yang tersedia. Sebanyak 3 anggota Koramil, 1 personel Polsek dan sekitar 10 warga turut terlibat dalam penanganan Karhutla tersebut.
Dalam upaya pemadaman, personel menggunakan 1 unit alat semprot punggung (Jet Shouter) serta mengerahkan 3 unit sepeda motor untuk mendukung mobilitas personel menuju lokasi.
Namun, proses pemadaman menghadapi kendala karena lokasi kebakaran berada di kawasan pegunungan dengan medan yang sulit dijangkau. Kondisi tersebut menyebabkan kendaraan pemadam kebakaran tidak dapat masuk hingga ke titik api.
Hingga laporan ini dibuat, api masih belum berhasil dipadamkan sepenuhnya. Kobaran api yang membesar serta keterbatasan peralatan menjadi kendala utama dalam proses pemadaman.
Meski demikian, personel TNI bersama Polri dan masyarakat tetap siaga di sekitar kaki gunung. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah kobaran api merambat ke wilayah yang lebih luas sekaligus memantau perkembangan titik api.
Dalam kejadian tersebut, tidak terdapat korban jiwa maupun personel yang mengalami cedera. Kerugian material sementara berupa lahan pegunungan yang ditumbuhi tanaman jati dengan luas terdampak diperkirakan sekitar ±10 hektare.
Kegiatan penanganan Karhutla ini menjadi bukti sinergi TNI, Polri dan masyarakat dalam menghadapi bencana kebakaran hutan dan lahan. Kewaspadaan dan kesiapsiagaan terus dilakukan, mengingat kondisi cuaca kering dapat meningkatkan risiko meluasnya kebakaran.
Personel di lapangan juga terus berupaya melakukan pemantauan serta mencegah api menjalar ke kawasan lain yang dapat membahayakan lingkungan maupun permukiman warga.



