BTA 8 Jakarta Hadirkan Edu Sutarto, Beri Motivasi Kepada Guru Se-Sulsel

POROSTENGAH.COM, Makassar — Bagaimana jika sekolah dan rumah yang seharusnya menjadi tempat tumbuh, belajar, dan membangun masa depan justru kehilangan maknanya bagi anak-anak?

Pertanyaan reflektif tersebut menjadi salah satu pintu masuk dalam pelatihan “Menjadi Pemimpin dan Guru yang Dirindukan di Sekolah dan di Rumah”

PT. BMS HUT RI KE 81 PT. BMS

Praktisi dan konsultan pendidikan sekaligus penulis buku, Dr. H. Edi Sutarto, M.Pd., kembali dihadirkan oleh PT Hikmah Cerdas Berkualitas bersama BTA 8 Jakarta Cabang Sulawesi Selatan di Makassar.

Kehadiran Edi Sutarto kali ini sebagai fasilitator dalam pelatihan “Menjadi Pemimpin dan Guru yang Dirindukan di Sekolah dan di Rumah” Batch 4, yang diselenggarakan di Hotel Horison Ultima Makassar, Selasa (29/09/2026).

Kegiatan tersebut diikuti oleh kepala sekolah, guru, pemerhati pendidikan, serta orang tua siswa. Berbeda dengan pelatihan sebelumnya, tema kali ini secara khusus menambahkan frasa “di Rumah”. Penambahan tersebut bukan sekadar perubahan diksi, tetapi merupakan bentuk perluasan perspektif bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah, melainkan juga bermula dari lingkungan keluarga.

“Setelah sukses melaksanakan pelatihan di sejumlah sekolah dan kegiatan sebelumnya di Hotel W Tree yang diikuti guru dan mahasiswa beberapa pekan lalu, kami kembali menghadirkan Pak Edi karena tingginya permintaan dari para mitra,” ujar Direktur Utama BTA 8 Jakarta Cabang Sulsel, Ikhsan, S.Pd.

Menurut Ikhsan, antusiasme terhadap pelatihan tersebut juga terus berkembang. Bahkan, sejumlah mitra telah menyampaikan permintaan agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan.

“Setelah kegiatan ini, kami juga telah mendapatkan permintaan dari beberapa mitra untuk menghadirkan pelatihan serupa di sejumlah kabupaten di Sulsel. Permintaan datang dari sekolah maupun komunitas pendidikan, termasuk para pengurus komite sekolah,” lanjutnya.

Mengajak Peserta Merefleksikan Makna Rumah dan Lembaga Pendidikan

Pelatihan ini tidak hanya menyajikan materi kepemimpinan dan pendidikan secara konseptual, tetapi juga mengajak peserta melakukan refleksi mendalam terhadap peran mereka sebagai pendidik, pemimpin, maupun orang tua.

Sejak sesi awal, Edi Sutarto menghadirkan gagasan yang mengajak peserta untuk berhenti sejenak dan melihat kembali keberadaan rumah serta lembaga pendidikan dari perspektif yang lebih mendalam.

Salah satu subtema yang diangkat adalah “Jangan Jadikan Rumah dan Lembaga Kita sebagai Kuburan.” Gagasan tersebut mengajak peserta mempertanyakan kembali makna rumah dan sekolah dalam kehidupan sehari-hari. Rumah merupakan tempat keluarga tumbuh dan membangun kehidupan bersama, sementara sekolah menjadi rumah kedua bagi anak-anak dalam memperoleh pendidikan, pengalaman, dan pembentukan karakter.

Pertanyaannya kemudian, apakah rumah dan sekolah yang kita miliki telah benar-benar menjadi “rumah” dalam makna yang sesungguhnya?

Melalui pertanyaan tersebut, peserta diajak melakukan evaluasi diri secara bijak. Mereka tidak hanya ditempatkan sebagai penerima materi, tetapi juga sebagai subjek yang aktif menemukan jawaban melalui proses refleksi.

Menghadirkan Ki Hajar Dewantara dalam Dialog Imajiner

Salah satu pendekatan menarik yang digunakan Edi Sutarto adalah menghadirkan sosok Ki Hajar Dewantara dalam sebuah dialog imajiner.

Peserta diajak membaca sosok Bapak Pendidikan Nasional tersebut melalui perspektif semiotika, termasuk menafsirkan simbol yang melekat pada dirinya, seperti tubuh dan pakaian Surjan Takwa yang dikenakannya.

Tidak berhenti pada simbol, peserta juga diajak membaca dan memaknai perjalanan perubahan nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat menjadi Ki Hajar Dewantara pada usia 40 tahun.

Perubahan nama tersebut kemudian dikaji melalui perspektif hermeneutika sebagai sebuah bentuk perubahan dan perjalanan kehidupan yang sarat makna.

Dari sana, peserta diajak mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa seorang bangsawan rela meninggalkan nama kebangsawanannya dan memilih nama yang lebih dekat dengan rakyat? Apa makna perubahan tersebut dalam konteks pemikiran, perjuangan pendidikan, dan upaya memerdekakan bangsa dari kebodohan serta penjajahan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian dihubungkan dengan sebuah gagasan tentang “segitiga emas spiritual: iman, hijrah, dan jihad.”

Dari Refleksi Menuju Tadabbur Al-Qur’an Untuk menemukan relevansi nilai-nilai tersebut dengan kehidupan pendidikan masa kini, peserta selanjutnya diajak melakukan tadabbur ayat-ayat Al-Qur’an.

Melalui proses tersebut, peserta tidak hanya diajak memahami teks secara teoritis, tetapi juga menggali pesan dan nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata, baik di rumah maupun di sekolah.

Pelatihan “Menjadi Pemimpin dan Guru yang Dirindukan di Sekolah dan di Rumah” menjadi bagian dari rangkaian kegiatan pengembangan kapasitas pendidikan yang diselenggarakan oleh PT Hikmah Cerdas Berkualitas dan BTA 8 Jakarta Cabang Sulawesi Selatan, dengan komitmen untuk terus menghadirkan ruang belajar, refleksi, dan pengembangan kualitas sumber daya manusia pendidikan di berbagai daerah.

 

 

 

 

error: Content is protected !!