News  

Di Tengah Kelangkaan BBM, Mobil Branding “Lelaki Piknik” Diduga Angkut BBM dari Gudang Bumi Maritim Tanadoang

SELAYAR, POROSTENGAH.COM –Kelangkaan BBM di Kabupaten Kepulauan Selayar belum juga reda. Namun, di tengah kondisi tersebut, aktivitas pengangkutan BBM pada dini hari justru memunculkan tanda tanya.

Sebuah mobil jenis Daihatsu APV berbranding “Lelaki Piknik” terlihat berada di depan gudang produksi yang selama ini disebut-sebut milik PT Bumi Maritim Tanadoang, Minggu dini hari, 13 September 2026 sekitar pukul 02.32 WITA.

PT. BMS HUT RI KE 81 PT. BMS

Dalam rekaman foto yang diperoleh, kendaraan tersebut tampak berada di lokasi gudang pada saat sebagian besar aktivitas masyarakat telah berhenti.

Sebelemnya, Kabag Ekonomi Setda Kepulauan Selayar, Mursalim, mengungkapkan, perizinan PT Bumi Maritim Tanadoang saat ini masih dalam proses pengurusan.

‎Keterangan tersebut tentu menimbulkan pertanyaan lanjutan terkait status aktivitas gudang dan pengangkutan BBM yang berlangsung di lokasi tersebut.

‎Jika perizinan perusahaan masih dalam proses, lantas dalam kapasitas apa aktivitas penyimpanan maupun pengangkutan BBM tersebut dilakukan?

‎Apakah BBM yang diangkut merupakan bagian dari distribusi resmi? Dari mana sumbernya? Berapa volumenya? Siapa penerimanya? Dan dokumen apa yang menjadi dasar pengangkutannya?

Menurut sumber, kendaraan itu diduga mengangkut BBM dari dalam gudang.

Bukan hanya sekali. Sumber menyebut, aktivitas kendaraan tersebut diduga telah berlangsung sebelumnya. Bahkan, pada waktu berbeda, mobil jenis pikap juga disebut terlihat mengangkut BBM menuju kawasan pelabuhan sekitar pukul 04.00 WITA.

Yang menarik, aktivitas tersebut disebut berlangsung bertepatan dengan momentum kedatangan kapal tanker yang melakukan pembongkaran BBM di Selayar.

Di sinilah pertanyaan publik kemudian muncul.

BBM dari gudang tersebut hendak dibawa ke mana? Dari mana asalnya? Siapa penerimanya? Dan dalam skema distribusi apa?

Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika masyarakat justru tengah berhadapan dengan persoalan kelangkaan BBM.

Jika aktivitas tersebut merupakan bagian dari distribusi resmi, maka semestinya ada penjelasan mengenai dokumen pengangkutan, volume BBM, tujuan distribusi serta pihak yang menerima.

Sebaliknya, jika terdapat mekanisme lain di luar pola distribusi yang semestinya, maka aktivitas tersebut tentu membutuhkan perhatian serius dari pihak yang memiliki kewenangan melakukan pengawasan.

Jangan sampai masyarakat antre mencari BBM, sementara di sisi lain BBM justru bergerak pada dini hari tanpa diketahui publik ke mana arahnya.

Porostengah menilai, persoalan ini bukan sekadar soal sebuah kendaraan yang terlihat keluar masuk gudang.

Lebih jauh, ini menyangkut rantai distribusi BBM di Selayar dan sejauh mana pengawasan terhadap setiap pergerakan BBM benar-benar berjalan.

PT Bumi Maritim Tanadoang dan instansi terkait diharapkan memberikan klarifikasi atas aktivitas tersebut.

Sebab, di tengah kelangkaan, setiap liter BBM yang bergerak patut jelas asal-usul dan peruntukannya.

error: Content is protected !!