News, Sorot  

‎Pasir Laut Dipakai di Proyek Sekolah Rp1,817 Miliar, Kepala SMPN Tanahbau Tak Kunjung Beri Penjelasan

Selayar, Porostengah.com – Proyek revitalisasi UPT SMPN Tanahbau Nomor 14 di Kabupaten Kepulauan Selayar menggunakan material yang terpantau berupa pasir laut. Namun, ketika persoalan tersebut dikonfirmasi, Kepala Sekolah selaku penanggung jawab justru belum memberikan penjelasan.

‎Padahal, proyek tersebut bukan pekerjaan kecil. Berdasarkan papan informasi di lokasi, pembangunan dibiayai melalui APBN Tahun Anggaran 2026 dengan nilai bantuan mencapai Rp1,817 miliar dan waktu pelaksanaan 105 hari kalender, mulai Agustus hingga Desember 2026.

PT. BMS HUT RI KE 81 PT. BMS

‎Pantauan pewarta di lokasi menunjukkan pasir yang digunakan dalam proses pekerjaan merupakan pasir laut.

‎Temuan tersebut kemudian dikonfirmasi kepada Kepala Sekolah melalui pesan WhatsApp. Konfirmasi diarahkan pada sejumlah pertanyaan mendasar: dari mana material tersebut diperoleh, apa dasar teknis penggunaannya, apakah telah dilakukan pengujian laboratorium, serta apakah penggunaannya telah sesuai dengan spesifikasi pekerjaan.

‎Namun hingga berita ini ditulis, tidak ada jawaban dari Kepala Sekolah.

‎Diamnya pihak sekolah membuat pertanyaan mengenai material yang digunakan dalam proyek bernilai miliaran rupiah tersebut masih menggantung.

‎Bukan sekadar soal pasir, Yang menjadi pertanyaan adalah apakah material yang digunakan telah memenuhi standar teknis dan bagaimana proses pengawasan terhadap kualitas pekerjaan yang dibiayai uang negara tersebut.

‎Penggunaan pasir laut pada pekerjaan konstruksi, terutama beton bertulang, memang membutuhkan pemeriksaan terhadap karakteristik material, termasuk kandungan klorida dan kesesuaiannya dengan persyaratan teknis. Pemeriksaan menjadi penting untuk memastikan material tidak menimbulkan persoalan terhadap kualitas dan ketahanan konstruksi.

Material Pasir Laut yang di gunakan pada Proyek Revitalisasi SMPN 14 Tanabau

‎Karena itu, dokumen pengujian material, spesifikasi teknis, sumber material, serta persetujuan penggunaan material menjadi bagian penting yang semestinya dapat dijelaskan kepada publik.

‎Terlebih, bangunan yang dikerjakan bukan sekadar gedung biasa. Ini adalah fasilitas pendidikan yang nantinya digunakan siswa dan tenaga pendidik.

‎Jika material tersebut memang telah memenuhi seluruh persyaratan teknis, publik tentu membutuhkan penjelasan sederhana: apa hasil pengujiannya dan siapa yang menyatakan material tersebut layak digunakan?

‎Sebaliknya, tanpa penjelasan dan dokumen pendukung, penggunaan pasir laut dalam proyek tersebut akan terus menyisakan tanda tanya.

‎Proyek menggunakan uang negara, dikerjakan untuk fasilitas pendidikan, dan berada dalam ruang publik. Maka transparansi bukan pilihan, melainkan bagian penting dari pertanggungjawaban pekerjaan.

‎Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Sekolah belum memberikan tanggapan atas konfirmasi yang disampaikan melalui WhatsApp. Pihak pelaksana, pengawas pekerjaan, dan instansi terkait juga masih memiliki ruang untuk memberikan klarifikasi mengenai penggunaan material tersebut.

error: Content is protected !!