‎Buah MBG di Salah Satu Posyandu Bontosikuyu Berulat, Pemilik Postingan Mengaku Beberapa Kali Dihubungi SPPG

Selayar, Porostengah.com – Polemik kualitas makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bontosikuyu, Kabupaten Kepulauan Selayar, kembali menjadi sorotan.

‎Kali ini, persoalan mencuat setelah seorang ibu menyusui (busui) yang menerima MBG di Posyandu Bontosikuyu mengeluhkan kondisi buah yang dinilainya tidak layak konsumsi.

PT. BMS HUT RI KE 81 PT. BMS

‎Keluhan tersebut disampaikan Alfi Ani melalui unggahan di media sosial Facebook, Kamis (27/8/2026). Ia menyebut foto yang diunggah bukan sekadar pemanis, tetapi menjadi gambaran dari kondisi yang ditemuinya secara langsung.

‎Menurut keterangan Alfi, setelah unggahannya beredar, dirinya beberapa kali dihubungi oleh pihak SPPG dan diminta menghapus postingan tersebut dari media sosial.

‎Permintaan tersebut menjadi bagian lain yang kini menarik perhatian publik, Jika benar pihak pengelola SPPG meminta agar unggahan mengenai kondisi buah tersebut dihapus, pertanyaan berikutnya adalah mengapa postingan tersebut harus dihapus, dan bukan justru dijadikan bahan evaluasi terhadap kualitas makanan yang dibagikan?

‎Saat dikonfirmasi, Alfi meluruskan bahwa penerima MBG yang dimaksud bukan anak sekolah, melainkan ibu menyusui yang mendapatkan makanan melalui Posyandu.

‎“Bukan sekolah pak, tepatnya Posyandu karena saya menerima MBG karena saya busui,” jelas Alfi. 28/08/2026

‎Ia juga menyebut buah yang dinilai tidak layak tersebut bukan hanya diterimanya seorang diri.

‎“Buah yang rusak kemarin bukan hanya saya yang dapat, teman-teman lain yang mendapat MBG juga buahnya tidak layak,” ungkapnya.

‎Alfi mengatakan persoalan serupa sebenarnya pernah ia temui sebelumnya,

‎Ia mencontohkan buah rambutan yang terkadang diterima dalam kondisi sudah berair atau kulitnya mulai menghitam.

‎“Kalau masalah kelayakan buah misalnya, kayak rambutan biasanya ada yang berair sekalimi atau kayak agak hitammi kulitnya, jelasnya kurang layakmi dikonsumsi,” katanya.

‎Namun, pada kejadian sebelumnya, ia memilih tidak mendokumentasikan kondisi tersebut.

‎“Tidak saya dokumentasiji, kayak yah sudahlah janganmi dimakan buahnya,” ujarnya.‎

‎Menurut Alfi, kejadian pada 27 Agustus 2026 berbeda. Kali ini ia mengaku sudah tidak bisa lagi menoleransi kondisi yang ditemukan.

‎“Tapi untuk kejadian kemarin saya sudah tidak bisa tolerir lagi,” tegasnya.

‎Keluhan tersebut kemudian memunculkan pertanyaan lebih luas mengenai mekanisme pengawasan kualitas makanan MBG sebelum diterima masyarakat.

‎Sebab, apabila benar terdapat buah yang sudah rusak atau tidak layak konsumsi dalam paket MBG, maka perlu diketahui pada tahapan mana persoalan tersebut terjadi.

‎Apakah pemeriksaan bahan makanan tidak berjalan maksimal? Apakah proses penyimpanan dan distribusi menjadi penyebab? Atau terdapat persoalan lain dalam rantai penyediaan makanan yang perlu dievaluasi.‎

‎Pertanyaan tersebut semakin relevan karena Alfi mengaku bukan kali pertama menemukan buah dalam kondisi yang menurutnya kurang layak.

‎Yang juga patut mendapat perhatian adalah pengakuan bahwa pemilik postingan beberapa kali dihubungi pihak SPPG setelah mengunggah keluhan tersebut.

‎Permintaan untuk menghapus postingan tentu menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat.

‎Apakah langkah tersebut dimaksudkan untuk melakukan klarifikasi dan penyelesaian secara internal, atau ada alasan lain?

‎Pihak SPPG penting memberikan penjelasan terbuka mengenai komunikasi tersebut, termasuk apa alasan meminta unggahan dihapus dan apakah pihak SPPG membantah kondisi buah yang ditampilkan dalam postingan.

‎Porostengah.com menilai persoalan ini semestinya tidak berhenti pada siapa yang mengunggah dan siapa yang meminta unggahan dihapus.

‎Yang jauh lebih penting adalah memastikan apakah makanan yang dibagikan melalui program MBG benar-benar memenuhi standar keamanan dan kelayakan konsumsi.

‎Sebab, program tersebut menyasar pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Ketika penerima justru menemukan makanan yang dinilai tidak layak, maka mekanisme pengawasan dan evaluasi patut dipertanyakan.

‎Dan kini publik menunggu jawaban: mengapa buah yang disebut rusak bisa sampai ke penerima, dan mengapa setelah keluhan itu muncul justru ada permintaan agar postingannya dihapus?

error: Content is protected !!